Sabtu, 30 November 2013

Agar Ekonomi Tetap Stabil, Pemerintah Diminta Terapkan 5 Kebijakan



Jakarta - Laju perekonomian Indonesia pada 2014 diperkirakan akan lebih baik daripada tahun 2013, dampak belanja atau stimulus dari partai partai politik menjelang Pemilu bisa mendongkrak laju perekonomian Indonesia sebesar 0,2 persen.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan pada awalnya Bank Indonesia memproyeksikan laju perekonomian Indonesia pada 2014 berada pada kisaran 5,8 persen. Namun proyeksi tersebut direvisi Bank Indonesia menjadi 6,0 persen, karena pada tahun depan belanja pemilu cukup baik mendorong pertumbuhan ekonomi.
Dia mengatakan tidak hanya faktor pemilu yang membuat perekonomian Indonesia lebih baik pada tahun depan, tetapi ada beberapa sentimen positif dari luar yang juga membuat perekonomian Indonesia lebih bergairah, sentimen tersebut adalah; Pertama, adanya global recovery terutama perbaikan perekonomian Tiongkok. Kedua, harga komoditas berada pada posisi stagnan, tidak naik dan tidak turun sehingga bisa meningkatkan kinerja ekspor. Ketiga fase easy money atau capital inflow diprediksi akan membaik meskipun masih ada isu the tapering off yang dilakukan Bank Sentral Amerika Serikat.
Dia mengatakan agar perekonomian Indonesia bisa tetap tumbuh stabil maka pemerintah harus membereskan defisit neraca transaksi berjalan yang masih menjadi permasalahan bagi perekonomian. Menurutnya kebijakan moneter saja tidak cukup dalam memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan, perlu upaya serius dari pemerintah untuk mengurangi defisit neraca transaksi berjalan.
"Defisit transaksi berjalan bisa dikurangi asalkan kebijakan fiskal dan moneter saling support, bukan hanya moneter saja, kenaikan BI rate juga berfungsi menjaga konsumsi masyarakat dan inflasi," ujar dia ketika ditemui dalam acara "DBS Gathering" di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Senin (25/11).
Dia mengatakan, untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan neraca transaksi berjalan yang lebih sehat maka BI meminta pemerintah untuk menerapkan 5 kebijakan, kelima kebijakan itu adalah; Pertama, memperbaiki kualitas infrastruktur guna mendorong minat investasi asing serta mengurangi biaya ekonomi yang cukup tinggi. Kedua, mendorong sektor agriculture dan Usaha Kecil Menengah agar tetap tumbuh karena sektor ini tahan terhadap gejolak dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar.
Ketiga, mendorong kebijakan energi yang lebih realistis, tidak hanya bisa melakukan konversi minyak ke energi alternatif tetapi alokasi dana untuk energi yang selama ini cukup besar mulai dialokasikan kepada belanja modal. Keempat, mendorong sektor industri yang bisa subtitusi impor sehingga mempunyai nilai tambah. Kelima menerapkan peraturan easy of doing business agar iklim investasi tumbuh berkelanjutan.
"5 kebijakan inilah yang bisa membuat momentum pertumbuhan ekonomi kita bisa dijaga," ujar dia
Perry mengatakan, jika implementasi 5 kebijakan tersebut sudah dilakukan pemerintah dengan sebaik baiknya maka pertumbuhan ekonomi pasti tumbuh positif, tidak hanya pada tahun depan tetapi berlanjut pada tahun tahun berikutnya.
Dia mengatakan Bank Indonesia juga memperkirakan inflasi tahun depan akan berada pada kisaran 4,5 persen. Rendahnya inflasi disebabkan pengaruh kenaikan BI rate yang dilakukan Bank Indonesia pada tahun 2013 sebesar 7,5 persen, serta harga dan pasokan pangan sudah dalam koridor yang aman. Sedangkan defisit neraca transaksi berjalan berada pada kisaran dibawah 3 persen asalkan pemerintah menerapkan 5 kebijakan yang diusulkan BI.
Dalam Kesempatan yang sama, Economist DBS Bank Gundy Cahyadi memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2014 berada pada kisaran 6,0 persen year on year. Menurutnya konsumsi masyarakat yang cukup tinggi masih menjadi faktor penopang perekonomian Indonesia ditambah stimulus pemilu juga cukup baik mendorong perekonomian Indonesia.
Dia mengatakan, perekonomian Tiongkok juga diprediksi akan membaik pada tahun depan, perubahan struktural di Tiongkok membuat terjaganya potensi pertumbuhan pada kisaran 7,5-8,0 persen, jika perekonomian Tiongkok tumbuh positif maka akan berdampak pada Indonesia khususnya peningkatan ekspor, sedangkan untuk negara Eropa masih stagnan.
"Pertumbuhan konsumsi swasta masih sangat kuat, kontribusi terhadap GDP melewati 50 persen di 5 tahun terakhir," ujar Gundy.
Dia mengatakan, bonus lain yang membuat perekonomian Indonesia masih tumbuh positif adalah kelas menengah terus menunjang. Menurutnya bonus inilah yang harus dimanfaatkan pemerintah dengan memperbaiki kualitas infrastruktur dan regulasi, jika kualitas infrastruktur sudah baik maka DBS memperkirakan size ekonomi Indonesia akan mencapai USD 1,4 triliun di tahun 2020.
Gundy menilai, arus masuk investasi juga diperkirakan akan membaik karena pengaruh kelas menengah dan konsumsi masyarakat yang cukup tinggi. Menurutnya, inilah yang menjadi tantangan pemerintah ke depan bagaimana cara meningkatkan industri manufaktur yang bernilai tambah yang bisa subtitusi impor, sehingga barang impor modal tidak lagi membebankan neraca transaksi berjalan. Justru sebaliknya, membuat neraca menjadi surplus karena barang impor tersebut diolah lagi menjadi produk yang berkualitas yang nantinya diekspor lagi.
Sementara itu, Ekonom Senior Faisal Basri mengatakan, perekonomian Indonesia tidak bisa disamakan seperti mobil angkutan yang bisa direm kapan saja. Menurutnya kondisi yang terjadi saat ini sudah mencerminkan kebimbangan pemerintah, di satu sisi pemerintah ingin mendorong pertumbuhan dengan meningkatkan Foreign Direct Investment (FDI), sehingga membuat neraca perdagangan defisit karena barang impor modal. Di sisi lain Bank Indonesia menaikan suku bunga untuk menjaga inflasi dan konsumsi agar tidak turun sehingga menekan impor.
Faisal mengatakan, BI sudah tepat dalam melakukan kebijakan moneter untuk menjaga pertumbuhan konsumsi yang tinggi. Menurutnya tinggal pemerintah mengeluarkan kebijakan fiskal yang hebat agar kebijakan moneter bisa diimbangi. "Implementasi dari kebijakan pemerintah yang masih kurang jalan atau belum 100 persen," ujar dia.

Sumber: http://www.beritasatu.com/makro/151965-agar-ekonomi-tetap-stabil-pemerintah-diminta-terapkan-5-kebijakan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar