Sejarah Islam
di Albania (Negeri Muslim di Eropa )
Penguasaan imperium Ottoman terhadap Albania mulai tahun 1430 hingga lima abad kemudian, telah membuat Islam semakin tersebar di negara itu. Pada tahun 1912, Albania meraih kemerdekaannya. Namun pada tahun 1945, dengan naiknya Enver Hoxha yang menganut paham komunis ke kursi kepresidenan, orang-orang Albania mengalami era pemerintahan yang represif dan mencekam. Enver Hoxha membelenggu kebebasan agama orang-orang Albania, dan bahkan sampai menghancurkan masjid-masjid di negara itu.
Setelah meninggalnya Enver Hoxha pada tahun 1985 dan melemahnya rezim komunis, kondisi di negara itu pun mengalami perubahan. Pada tahun 1990, aktivitas yayasan relijius dan masjid-masjid kembali meraih kebebasan. Pada bulan Maret tahun berikutnya, diadakan pemilu parlemen yang bebas untuk pertamakalinya. Presiden Sali Berisha adalah presiden pertama Albania pasca era komunis. Pada masa pemerintahannya, digalakkan usaha-usaha pembangunan kembali tempat-tempat ibadah dan perluasan hubungan dengan negara-negara muslim. Bahkan pada masa itulah Albania resmi menjadi anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI). Namun pada tahun-tahun kemudian, perhatian pemerintah Albania terhadap Islam menjadi berkurang.
Rakyat Albania mudah menerima ajaran Islam karena selama berabad-abad mereka berada di bawah kezaliman para penguasa. Sementara itu, ajaran Islam memberi mereka semangat untuk melawan kezaliman. Islam adalah agama yang mengajarkan prinsip keadilan, kebebasan, dan persaudaraan. Prinsip-prinsip Islam inilah yang menarik orang–orang Albania terhadap Islam. Pada era komunis, orang-orang Albania berada di bawah tekanan dan represi, namun cahaya Islam tetap menyala di hati mereka.
Kehidupan persaudaraan antar etnis, demikian juga antara kaum muslimin dan kaum Kristen di Albania juga menarik untuk diamati. Mereka hidup berdampingan dengan rukun satu sama lain. Data pada tahun 2004 yang dikeluarkan secara bersama oleh Departemen Luar Negeri dan Pusat data statistik menunjukkan bahwa keragaman etnis dan agama di Albania masih tetap terjaga. Disebutkan bahwa etnis Albania dengan jumlah 98,6% merupakan etnis mayoritas. Disusul dengan Yunani 1,17%, dan etnis-etnis lainnya seperti Roma, Serbia, Montenegro Makedoni, Mesir, dan Bulgaria sebesar 0,23%. Sementara itu, secara agama, Islam menempati posisi mayoritas yaitu 70%, Kristen Orthodox 20%, dan Katolik Roma 10%.
Masjid selalu menjadi pusat dari kegiatan kaum muslimin karena masjid memberikan semangat dan makrifat kepada mereka. Begitu pula di Albania, masjid memiliki peranan penting dalam menumbuhkan semangat keislaman di hati kaum muslimin negara itu. Di setiap lapangan utama pada setiap kota di Albania selalu terdapat sebuah masjid. Hal ini membuktikan bahwa masjid adalah tempat yang sangat penting di mata masyarakat Albania. Sebelumn berkuasanya rezim komunis, jumlah masjid di negara itu mencapai 600 buah dan memiliki peran yang lebih aktif daripada era sekarang ini. Selama pemerintahan rezim komunis, masjid-masjid di negara itu ditutup dan sebagiannya bahkan dihancurkan. Setelah keruntuhan rezim komunis, masjid-masjid itu kembali dibangun dan sekarang ini jumlah masjid yang aktif melakukan berbagai kegiatan keagamaan mencapai 350 buah. Selain masjid, juga ada pusat-pusat kegiatan kaum muslimin lainnya, misalnya husainiyah atau yayasan-yayasan keislaman.
Pengajaran agama Islam secara formal di Albania dilakukan secara terpusat. Dengan kata lain, beberapa lembaga pengajaran tertentu di Albania memiliki tanggung jawab dalam mengajarkan agama Islam kepada para pelajar. Lembaga-lembaga pengajaran ini merupakan pengganti dari sekolah-sekolah agama yang sebelumnya melakukan kegiatan secara terpisah-pisah dan tersebar di setiap masjid. Lembaga pengajaran agama terbesar berlokasi di Tirana, ibukota Albania. Di sekolah agama ini, Islam diajarkan sedemikian rupa agar terhindar dari pertentangan antar mazhab. Lulusan dari lembaga pengajaran ini memiliki peran besar dalam membangkitkan semangat keislaman kaum muslimin pada era komunis dan akibatnya banyak pula di antara mereka yang dipenjarakanoleh rezim komunis.
Sementara itu, kelompok politik atau partai-partai Islam tidak banyak berdiri di Albania. Mungkin hal ini disebabkan karena panjangnya masa pemerintahan rezim komunis yang sangat represif dan selalu menghalangi kegiatan-kegiatan politik non-komunis. Lembaga Islam terbesar di Albania saat ini,yang juga mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah adalah Komite Muslim Albania. Masrasah Islami Tirana adalah lembaga pengajaranyang berada di bawah Komite Muslim Albania. Di setiap kota, terdapat cabang dari komite ini dan melakukan berbagai kegiatan keislaman di kota tersebut. Selain Komite Muslim Albania, juga ada lembaga-lembaga lain, seperti Organisasi Cendekiawan Muslim, Organisasi Muslimah, atau Organisasi Pemuda Muslim Albania. Selain itu, kaum muslimin Albania juga memiliki sebuah Pusat Dialog Agama, demi menjalin persatuan dan membela hak-hak kaum muslimin di negara ini.
Meskipun Islam adalah agama mayoritas rakyat Albania dan ke-Islam-an telah menjadi jati diri mayoritas rakyat negara itu, namun perhatian yang ditunjukkan pemerintah Albania terhadap perluasan pengajaran Islam tidak memuaskan. Dalam UUD negara ini, Islam tidak disebut sebagai agama resmi negara. Bahkan, dewasa ini tampak usaha-usaha untuk menjadikan negara muslim ini sebagai negara sekuler. Hal ini antara lain merupakan akibat dari letak geografisnya di Eropa, yaitu di tengah negara-negara non Islam dan juga akibat dari sisa-sisa peninggalan era komunis dulu.
Dalam menghadapi situasi seperti ini, diperlukan peran aktif dari rakyat Albania sendiri agar Islam menjadi semakin berkembang dan mewarnai berbagai dimensi kehidupan masyarakat. Apalagi, masa lalu Albania yang dibawah penindasan rezim komunis telah membuat negara ini menjadi salah satu negara miskin di Eropa dan menghadapi banyak permasalahan sosial. Berpegang kembali kepada Islam secara benar adalah satu-satunya jalan untuk keluar dari kemelut itu.
Islam: Agama
yang Berkembang Paling Pesat di Eropa
Selama 20
tahun terakhir, jumlah kaum Muslim di dunia telah meningkat secara perlahan.
Angka statistik tahun 1973 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Muslim dunia
adalah 500 juta; sekarang, angka ini telah mencapai 1,5 miliar. Kini, setiap
empat orang salah satunya adalah Muslim. Bukanlah mustahil bahwa jumlah
penduduk Muslim akan terus bertambah dan Islam akan menjadi agama terbesar di
dunia.
Peningkatan
yang terus-menerus ini bukan hanya dikarenakan jumlah penduduk yang terus
bertambah di negara-negara Muslim, tapi juga jumlah orang-orang mualaf yang
baru memeluk Islam yang terus meningkat, suatu fenomena yang menonjol, terutama
setelah serangan terhadap World Trade Center pada tanggal 11 September
2001. Serangan ini, yang dikutuk oleh setiap orang, terutama umat Muslim,
tiba-tiba saja telah mengarahkan perhatian orang (khususnya warga Amerika)
kepada Islam. Orang di Barat berbicara banyak tentang agama macam apakah Islam
itu, apa yang dikatakan Al Qur'an, kewajiban apakah yang harus dilaksanakan
sebagai seorang Muslim, dan bagaimana kaum Muslim dituntut melaksanakan urusan
dalam kehidupannya. Ketertarikan ini secara alamiah telah mendorong peningkatan
jumlah warga dunia yang berpaling kepada Islam. Demikianlah, perkiraan yang
umum terdengar pasca peristiwa 11 September 2001 bahwa "serangan ini akan
mengubah alur sejarah dunia", dalam beberapa hal, telah mulai nampak kebenarannya.
Proses kembali kepada nilai-nilai agama dan spiritual, yang dialami dunia sejak
lama, telah menjadi keberpalingan kepada Islam.
Hal luar
biasa yang sesungguhnya sedang terjadi dapat diamati ketika kita mempelajari
perkembangan tentang kecenderungan ini, yang mulai kita ketahui melalui
surat-surat kabar maupun berita-berita di televisi. Perkembangan ini, yang
umumnya dilaporkan sekedar sebagai sebuah bagian dari pokok bahasan hari itu,
sebenarnya adalah petunjuk sangat penting bahwa nilai-nilai ajaran Islam telah
mulai tersebar sangat pesat di seantero dunia. Di belahan dunia Islam lainnya,
Islam berada pada titik perkembangan pesat di Eropa. Perkembangan ini telah
menarik perhatian yang lebih besar di tahun-tahun belakangan, sebagaimana
ditunjukkan oleh banyak tesis, laporan, dan tulisan seputar "kedudukan
kaum Muslim di Eropa" dan "dialog antara masyarakat Eropa dan umat
Muslim." Beriringan dengan berbagai laporan akademis ini, media massa
telah sering menyiarkan berita tentang Islam dan Muslim. Penyebab ketertarikan
ini adalah perkembangan yang terus-menerus mengenai angka populasi Muslim di
Eropa, dan peningkatan ini tidak dapat dianggap hanya disebabkan oleh imigrasi.
Meskipun
imigrasi dipastikan memberi pengaruh nyata pada pertumbuhan populasi umat
Islam, namun banyak peneliti mengungkapkan bahwa permasalahan ini dikarenakan
sebab lain: angka perpindahan agama yang tinggi. Suatu kisah yang ditayangkan NTV
News pada tanggal 20 Juni 2004 dengan judul "Islam adalah agama yang
berkembang paling pesat di Eropa" membahas laporan yang dikeluarkan oleh
badan intelejen domestik Prancis. Laporan tersebut menyatakan bahwa jumlah
orang mualaf yang memeluk Islam di negara-negara Barat semakin terus bertambah,
terutama pasca peristiwa serangan 11 September. Misalnya, jumlah orang mualaf
yang memeluk Islam di Prancis meningkat sebanyak 30 hingga 40 ribu di tahun
lalu saja.
Gereja
Katolik dan Perkembangan Islam
Gereja
Katolik Roma, yang berpusat di kota Vatican, adalah salah satu lembaga yang
mengikuti fenomena tentang kecenderungan perpindahan agama. Salah satu pokok
bahasan dalam pertemuan bulan Oktober 1999 muktamar gereja Eropa, yang dihadiri
oleh hampir seluruh pendeta Katolik, adalah kedudukan Gereja di milenium baru.
Tema utama konferensi tersebut adalah tentang pertumbuhan pesat agama Islam di
Eropa. The National Catholic Reporter melaporkan sejumlah orang garis
keras menyatakan bahwa satu-satunya cara mencegah kaum Muslim mendapatkan
kekuatan di Eropa adalah dengan berhenti bertoleransi terhadap Islam dan umat
Islam; kalangan lain yang lebih objektif dan rasional menekankan kenyataan
bahwa oleh karena kedua agama percaya pada satu Tuhan, sepatutnya tidak ada
celah bagi perselisihan ataupun persengketaan di antara keduanya. Dalam satu
sesi, Uskup Besar Karl Lehmann dari Jerman menegaskan bahwa terdapat lebih
banyak kemajemukan internal dalam Islam daripada yang diketahui oleh banyak
umat Nasrani, dan pernyataan-pernyataan radikal seputar Islam sesungguhnya
tidak memiliki dasar.
Mempertimbangkan
kedudukan kaum Muslim di saat menjelaskan kedudukan Gereja di milenium baru
sangatlah tepat, mengingat pendataan tahun 1999 oleh PBB menunjukkan bahwa
antara tahun 1989 dan 1998, jumlah penduduk Muslim Eropa meningkat lebih dari
100 persen. Dilaporkan bahwa terdapat sekitar 13 juta umat Muslim tinggal di
Eropa saat ini: 3,2 juta di Jerman, 2 juta di Inggris, 4-5 juta di Prancis, dan
selebihnya tersebar di bagian Eropa lainnya, terutama di Balkan. Angka ini
mewakili lebih dari 2% dari keseluruhan jumlah penduduk Eropa.
Kesadaran
Beragama di Kalangan Muslim Meningkat di Eropa
Penelitian
terkait juga mengungkap bahwa seiring dengan terus meningkatnya jumlah Muslim
di Eropa, terdapat kesadaran yang semakin besar dalam menjalankan agama di
kalangan para mahasiswa. Menurut survei yang dilakukan oleh surat kabar Prancis
Le Monde di bulan Oktober 2001, dibandingkan data yang dikumpulkan di
tahun 1994, banyak kaum Muslims terus melaksanakan sholat, pergi ke mesjid, dan
berpuasa. Kesadaran ini terlihat lebih menonjol di kalangan mahasiswa
universitas.
Dalam sebuah
laporan yang didasarkan pada media masa asing di tahun 1999, majalah Turki Aktüel
menyatakan, para peneliti Barat memperkirakan dalam 50 tahun ke depan Eropa
akan menjadi salah satu pusat utama perkembangan Islam.
Islam
adalah Bagian Tak Terpisahkan dari Eropa
Bersamaan
dengan kajian sosiologis dan demografis ini, kita juga tidak boleh melupakan
bahwa Eropa tidak bersentuhan dengan Islam hanya baru-baru ini saja, akan
tetapi Islam sesungguhnya merupakan bagian tak terpisahkan dari Eropa.
Eropa dan
dunia Islam telah saling berhubungan dekat selama berabad-abad. Pertama, negara
Andalusia (756-1492) di Semenanjung Iberia, dan kemudian selama masa Perang
Salib (1095-1291), serta penguasaan wilayah Balkan oleh kekhalifahan
Utsmaniyyah (1389) memungkinkan terjadinya hubungan timbal balik antara kedua
masyarakat itu. Kini banyak pakar sejarah dan sosiologi menegaskan bahwa Islam
adalah pemicu utama perpindahan Eropa dari gelapnya Abad Pertengahan menuju
terang-benderangnya Masa Renaisans. Di masa ketika Eropa terbelakang di bidang
kedokteran, astronomi, matematika, dan di banyak bidang lain, kaum Muslim
memiliki perbendaharaan ilmu pengetahuan yang sangat luas dan kemampuan hebat
dalam membangun.
Bersatu
pada Pijakan Bersama: "Monoteisme"
Perkembangan
Islam juga tercerminkan dalam perkembangan dialog antar-agama baru-baru ini.
Dialog-dialog ini berawal dengan pernyataan bahwa tiga agama monoteisme (Islam,
Yahudi, dan Nasrani) memiliki pijakan awal yang sama dan dapat bertemu pada
satu titik yang sama. Dialog-dialog seperti ini telah sangat berhasil dan
membuahkan kedekatan hubungan yang penting, khususnya antara umat Nasrani dan
Muslim. Dalam Al Qur'an, Allah memberitahukan kepada kita bahwa kaum Muslim
mengajak kaum Ahli Kitab (Nasrani dan Yahudi) untuk bersatu pada satu pijakan
yang disepakati bersama:
Katakanlah:
"Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang
tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah
dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian
kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka
berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah bahwa kami adalah
orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (QS. Ali 'Imran, 3: 64)
Ketiga agama
yang meyakini satu Tuhan tersebut memiliki keyakinan yang sama dan nilai-nilai
moral yang sama. Percaya pada keberadaan dan keesaan Tuhan, malaikat, Nabi,
Hari Akhir, Surga dan Neraka, adalah ajaran pokok keimanan mereka. Di samping
itu, pengorbanan diri, kerendahan hati, cinta, berlapang dada, sikap
menghormati, kasih sayang, kejujuran, menghindar dari berbuat zalim dan tidak
adil, serta berperilaku mengikuti suara hati nurani semuanya adalah sifat-sifat
akhak terpuji yang disepakati bersama. Jadi, karena ketiga agama ini berada
pada pijakan yang sama, mereka wajib bekerja sama untuk menghapuskan
permusuhan, peperangan, dan penderitaan yang diakibatkan oleh ideologi-ideologi
antiagama. Ketika dilihat dari sudut pandang ini, dialog antar-agama memegang
peran yang jauh lebih penting. Sejumlah seminar dan konferensi yang
mempertemukan para wakil dari agama-agama ini, serta pesan perdamaian dan
persaudaraan yang dihasilkannya, terus berlanjut secara berkala sejak
pertengahan tahun 1990-an.
Kabar
Gembira tentang Datangnya Zaman Keemasan
Dengan
mempertimbangkan semua fakta yang ada, terungkap bahwa terdapat suatu
pergerakan kuat menuju Islam di banyak negara, dan Islam semakin menjadi pokok
bahasan terpenting bagi dunia. Perkembangan ini menunjukkan bahwa dunia sedang
bergerak menuju zaman yang sama sekali baru. Yaitu sebuah zaman yang di
dalamnya, insya Allah, Islam akan memperoleh kedudukan penting dan ajaran
akhlak Al Qur'an akan tersebar luas. Penting untuk dipahami, perkembangan yang
sangat penting ini telah dikabarkan dalam Al Qur'an 14 abad yang lalu:
Mereka
berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan)
mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun
orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya
(dengan membawa) petunjuk (Al Qur'an) dan agama yang benar untuk
dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS. At Taubah, 9: 32-33)
Tersebarnya
akhlak Islami adalah salah satu janji Allah kepada orang-orang yang beriman.
Selain ayat-ayat ini, banyak hadits Nabi kita SAW menegaskan bahwa ajaran
akhlak Al Qur'an akan meliputi dunia. Di masa-masa akhir menjelang berakhirnya
dunia, umat manusia akan mengalami sebuah masa di mana kezaliman,
ketidakadilan, kepalsuan, kecurangan, peperangan, permusuhan, persengketaan,
dan kebobrokan akhlak merajalela. Kemudian akan datang Zaman Keemasan, di
mana tuntunan akhlak ini mulai tersebar luas di kalangan manusia bagaikan
naiknya gelombang air laut pasang dan pada akhirnya meliputi seluruh dunia.
Sejumlah hadits ini, juga ulasan para ulama mengenai hadits tersebut,
dipaparkan sebagaimana berikut:
Selama
[masa] ini, umatku akan menjalani kehidupan yang berkecukupan dan terbebas dari
rasa was-was yang mereka belum pernah mengalami hal seperti itu. [Tanah] akan
mengeluarkan panennya dan tidak akan menahan apa pun dan kekayaan di masa itu
akan berlimpah.
(Sunan Ibnu Majah)
…
Penghuni langit dan bumi akan ridha. Bumi akan mengeluarkan semua yang tumbuh,
dan langit akan menumpahkan hujan dalam jumlah berlimpah. Disebabkan seluruh
kebaikan yang akan Allah curahkan kepada penduduk bumi, orang-orang yang masih
hidup berharap bahwa mereka yang telah meninggal dunia dapat hidup kembali. (Muhkhtasar Tazkirah Qurtubi, h.
437)
Bumi
akan berubah seperti penampan perak yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan ... (Sunan Ibnu Majah)
Bumi
akan diliputi oleh kesetaraan dan keadilan sebagaimana sebelumnya yang diliputi
oleh penindasan dan kezaliman. (Abu
Dawud)
Keadilan
akan demikian jaya sampai-sampai semua harta yang dirampas akan
dikembalikan kepada pemiliknya; lebih jauh, sesuatu yang menjadi milik orang
lain, sekalipun bila terselip di antara gigi-geligi seseorang, akan
dikembalikan kepada pemiliknya… Keamanan
meliputi
seluruh Bumi dan bahkan segelintir perempuan bisa menunaikan haji tanpa diantar
laki-laki.
(Ibn Hajar al Haitsami: Al Qawlul
Mukhtasar fi
`Alamatul Mahdi al Muntazar, h. 23)
Berdasarkan
pernyataan-pernyataan di atas, Zaman Keemasan akan merupakan suatu masa di mana
keadilan, kemakmuran, keberlimpahan, kesejahteraan, rasa aman, perdamaian, dan
persaudaraan akan menguasai kehidupan umat manusia, dan merupakan suatu zaman
di mana manusia merasakan cinta, pengorbanan diri, lapang dada, kasih sayang,
dan kesetiaan. Dalam hadits-haditsnya, Nabi kita SAW mengatakan bahwa masa yang
diberkahi ini akan terjadi melalui perantara Imam Mahdi, yang akan datang di
Akhir Zaman untuk menyelamatkan dunia dari kekacauan, ketidakadilan, dan
kehancuran akhlak. Ia akan memusnahkan paham-paham yang tidak mengenal Tuhan
dan menghentikan kezaliman yang merajalela. Selain itu, ia akan menegakkan
agama seperti di masa Nabi kita SAW, menjadikan tuntunan akhlak Al Qur'an
meliputi umat manusia, dan menegakkan perdamaian dan menebarkan kesejahteraan
di seluruh dunia.
Kebangkitan
Islam yang sedang dialami dunia saat ini, serta peran Turki di era baru
merupakan tanda-tanda penting bahwa masa yang dikabarkan dalam Al Qur'an dan
dalam hadits Nabi kita sangatlah dekat. Besar harapan kita bahwa Allah akan
memperkenankan kita menyaksikan masa yang penuh berkah ini.
Sumber: