·
Mean
1.
Mean biasanya dijadikan nilain yang baik dalam
mewakili suatu data
2.
Paling banyak dikenal dalam menyimpulkan sekelompok
data
3.
Sifat mean dipengaruhi nilai ekstrim baik ekstrim kecil
maupun besar
Contoh
mean:
(13 + 18 + 13 + 14 + 13 + 16 + 14 + 21 + 13) ÷ 9 = 15
(13 + 18 + 13 + 14 + 13 + 16 + 14 + 21 + 13) ÷ 9 = 15
·
Median
adalah
nilai tengah, jadi saya akan harus menulis ulang daftar dalam rangka:13, 13,
13, 13, 14, 14, 16, 18, 21Ada sembilan nomor dalam daftar, jadi yang di tengah
akan menjadi (9 + 1) ÷ 2 = 10 ÷ 2 = jumlah 5:13, 13, 13, 13, 14, 14, 16, 18,
21 Jadi
median adalah 14
Kelebihan Nilai median tidak dipengaruhi niali ekstrim
Kelebihan Nilai median tidak dipengaruhi niali ekstrim
·
Modus
adalah
jumlah yang diulangi paling sering daripada yang lainnya,
13 ada 4
14 ada 2
16 ada 1
18 ada 1
dan 21 ada 1
sehingga 13 adalah nilai modus.
13 ada 4
14 ada 2
16 ada 1
18 ada 1
dan 21 ada 1
sehingga 13 adalah nilai modus.
Standar
Defiasi
Standar Deviasi dan Varians Salah satu teknik statistik
yg digunakan untuk menjelaskan homogenitas kelompok. Varians merupakan jumlah
kuadrat semua deviasi nilai-nilai individual thd rata-rata kelompok. Sedangkan
akar dari varians disebut dengan standar deviasi atau simpangan baku.
Standar Deviasi dan Varians Simpangan baku merupakan
variasi sebaran data. Semakin kecil nilai sebarannya berarti variasi nilai data
makin sama Jika sebarannya bernilai 0, maka nilai semua datanya adalah sama.
Semakin besar nilai sebarannya berarti data semakin bervariasi.
Cara penulisan rumus fungsi standar deviasi
STDEV (number1, number2,…)
STDEV (number1, number2,…)
Dengan :
Number1, number2, … adalah 1-255 argumen yang sesuai dengan sampel populasi. Anda juga dapat menggunakan array tunggal atau referensi ke array, bukan argumen yang dipisahkan oleh koma.
Number1, number2, … adalah 1-255 argumen yang sesuai dengan sampel populasi. Anda juga dapat menggunakan array tunggal atau referensi ke array, bukan argumen yang dipisahkan oleh koma.
Keterangan:
a. STDEV
mengasumsikan bahwa argumen adalah contoh dari populasi. Jika data anda
mewakili seluruh populasi, untuk menghitung deviasi standar menggunakan STDEVP.
b. Standar deviasi dihitung menggunakan metode
“n-1″ .
c. Argumen dapat berupa nomor atau nama, array,
atau referensi yang mengandung angka.
d. Nilai-nilai logis dan representasi teks dari
nomor yang Anda ketik langsung ke daftar argumen akan dihitung.
e. Jika
argumen adalah sebuah array atau referensi, hanya nomor/angka dalam array atau
referensi yang akan dihitung. Sel kosong, nilai-nilai logis, teks, atau
nilai-nilai kesalahan dalam array atau referensi akan diabaikan.
f.
Argumen yang kesalahan nilai atau teks yang tidak dapat
diterjemahkan ke dalam nomor/angka akan menyebabkan kesalahan.
g. Jika Anda ingin memasukkan nilai-nilai logis
dan representasi teks angka dalam referensi sebagai bagian dari perhitungan,
gunakan fungsi STDEVA.
Dalam penerapannya STDEV , perhitungan standar deviasi
secara manual menggunakan rumus berikut:
Dimana:
x = data ke n
x bar = x rata-rata = nilai rata-rata sampel
n = banyaknya data
x = data ke n
x bar = x rata-rata = nilai rata-rata sampel
n = banyaknya data
variansi merupakan salah satu ukuran sebaran yang paling
sering digunakan dalam berbagai analisis statistika. Standar deviasi merupakan
akar kuadrat positif dari variansi. Secara umum, variansi dirumuskun sabagai :
Jika kita memiliki n observasi yaitu X1,X2,….Xn, dan
diketahui Xbar adalah rata-rata sampel yang dimiliki, maka variansi dapat
dihitung sebagai :
Contoh:
Jika dimiliki data : 210, 340, 525, 450, 275
maka variansi dan standar deviasinya :
mean = (210, 340, 525, 450, 275)/5 = 360
variansi dan standar deviasi berturut-turut :
Sedangkan jika data disajikan dalam tabel distribusi
frekuensi, variansi sampel dapat dihitung sebagai :
TEORI PROBABILITAS (PELUANG)
1. DEFINISI
A. Pendekatan Klasik
Probabilitas/peluang merupakan banyaknya kemungkinan-kemungkinan pada
suatu kejadian berdasarkan frekuensinya.
Jika ada a kemungkinan yang dapat terjadi pada kejadian A dan ada b
kemungkinan yang dapat terjadi pada kejadian A, serta masing-masing kejadian
mempunyai kesempatan yang sama dan saling asing, maka probabilitas/peluang
bahwa akan terjadi a adalah:
P (A) = a/a+b ; dan peluang bahwa akan terjadi b adalah: P (A) = b/a+b
Contoh:
Pelamar pekerjaan terdiri dari 10 orang pria (A) dan 15 orang wanita
(B). Jika yang diterima hanya 1, berapa peluang bahwa ia merupakan wanita?
Jawab: P (A) = 15/10+15 = 3/5
B. Pendekatan Subyektif
Nilai probabilitas/peluang adalah tepat/cocok apabila hanya ada satu
kemungkinan kejadian terjadi dalam suatu kejadian ditentukan berdasarkan
tingkat kepercayaan yang bersifat individual (misalnya berdasarkan pengalaman).
C. Pendekatan Frekuensi Relatif
Nilai probabilitas/peluang ditentukan atas dasar proporsi dari
kemungkinan yang dapat terjadi dalam suatu observasi/percobaan (pengumpulan
data).
Jika pada data sebanyak N terdapat a kejadian yang bersifat A, maka
probabilitas/peluang akan terjadi A untuk N data adalah: P (A) = a/N
Contoh:
Dari hasil penelitian diketahui bahwa 5 orang karyawan akan terserang
flu pada musim dingin. Apabila lokakarya diadakan di Puncak, berapa
probabilitas terjadi 1 orang sakit flu dari 400 orang karyawan yang ikut serta?
Jawab: P (A) = 5/400 = P (A) = 1/80
Probabilitas disajikan dengan symbol P,
sehingga P(A) menyatakan probabilitas bahwa kejadian A akan terjadi dalam
observasi atau percobaan tunggal, dengan 0 ≤ P(A) ≤ 1.
Dalam suatu observasi/percobaan kemungkinan
kejadian ada 2, yaitu “terjadi (P(A)) atau “tidak terjadi” (P(A)’), maka jumlah
probabilitas totalnya adalah P(A) + P(A)’ = 1
2. OPERASI HIMPUNAN PELUANG
A. Irisan (Ç), jika satu atau beberapa peluang pada himpunan A terjadi secara
bersama-sama dengan himpunan B.
B. Gabungan (È), jika semua peluang pada himpunan A dan semua peluang pada himpunan B
terjadi bersama-sama.
C. Komplemen (X’) suatu kejadian A relative
terhadap S adalah semua himpunan S bukan anggota A.
3. JENIS KEJADIAN
A. Berdasarkan peluang terjadinya.
a. Kejadian Saling Meniadakan (Mutually
Exclusive), yaitu kejadian yang tidak dapat terjadi secara bersama-sama dengan
kejadian lainnya.
Contoh: Hasil Ujian: Lulus vs Tidak lulus
Keadaan : Dingin vs Panas
Cuaca : Hujan vs Tidak Hujan
b. Kejadian Tidak Saling Meniadakan
(Non-Mutually Exclusive), yaitu kejadian yang dapat terjadi secara bersama-sama
dengan kejadian lainnya.
Contoh: Keadaan vs Cuaca : Dingin vs Tidak hujan
Dingin vs Hujan
Panas vsTidak hujan
Panas vs Hujan
B. Berdasarkan pengaruh/hubungannya
a. Kejadian Independen, yaitu apabila terjadi
atau tidaknya suatu kejadian tidak berpengaruh pada probabilitas/peluang
kejadian yang lain.
b. Kejadian Dependen, yaitu apabila terjadi
atau tidaknya suatu kejadian berpengaruh pada probabilitas/peluang kejadian
yang lain.
4. PERHITUNGAN NILAI PELUANG
A. Hukum Penjumlahan
Digunakan apabila kita ingin menghitung probabilitas suatu kejadian
tertentu atau yang lain (atau keduanya) yang terjadi dalam suatu
percobaan/kejadian tunggal.
Rumus Penjumlahan untuk kejadian-kejadian yang saling meniadakan:
P(A atau B) = P (AÈB) =
P(A) + P(B)
Rumus Penjumlahan untuk kejadian-kejadian yang tidak saling meniadakan:
1. Dua Kejadian
P(A atau B) = P(A) + P(B) – P(A dan B) atau
P(AÈB) = P(A) + P(B) – P(AÇB).
2. Tiga Kejadian
P(A atau B atau C) = P(A) + P(B) + P(C) – P(A dan B) – P(A dan C) –
P(Bdan C) + P(A dan B dan C) atau P(AÈBÈC) = P(A) + P(B) + P(C) – P(AÇB) – P(AÇC) – P(BÇC) + P(AÇBÇC)
B. Hukum Perkalian
Hukum perkalian untuk kejadian Independen: P(A dan B) = P(AÇB) = P(A) x
P(B)
Hukum perkalian untuk kejadian dependen: P(A dan B) = P(A) x P(B) atau
P(A dan B) = P(A x P(B|A) atau P(B dan A) = P(B) x P(A|B)
Contoh:
Berdasarkan pengalaman, sebuah produk susu kaleng yang lulus uji dalam
hal berat bersih akan diberi nilai 0.95. Lembaga konsumen membuktikan
pernyataan tersebut dengan cara mengukur 3 kaleng dengan sebuah alat ukur
tertentu. Dengan asumsi bahwa jika kaleng 1 lulus uji, maka kaleng 2 dan 3
belum tentu lulus, maka tentukan:
a. Berapa probabilitas bahwa ketiga kaleng tsb
lulus uji?
b. Berapa probabilitas bahwa hanya dua kaleng
yang lulus uji?
c. Berapa probabilitas bahwa tidak ada yang
lulus uji?
Jawab:
a. P(3 lulus uji) = P(k1 dan k2 dan k3)
= 0.95 x 0.95 x 0.95 = 0.86
b. P(2 lulus uji) = P(K1 dan K2 dan K3’)+P(K1
dan K2’ dan K3)+P(K1 dan K2 dan K3’)
= (0.95 x 0.95 x0.05) + (0.09 x 0.05 x 0.95 +
(0.05 x 0.95 x 0.95)
= 0.14
c. P(tidak ada yang lulus uji) = P(K1’ dan K2’
dan K3’)
= 0.05 x 0.05 x 0.05
= 0.000125
C. Permutasi dan Kombinasi
a. Permutasi
Merupakan setiap susunan yang berbeda dari sehimpunan obyek (n)
nPr = Permutasi dari n obyek yang diambil
= n!/(n-r)! , dimana n = banyaknya obyek
r =obyek yang diambil
Contoh:
6 karyawan sebuah perusahaan yang harus lulus masa percobaan, 3
diantaranya akan ditugaskan di 3 kota. Berapa kemungkinan susunan yang dapat
terjadi berdasarkan 3 kota tersebut.
Jawab: Susunan yang berbeda tentang penempatan
nPr = 6!/(6-3)! = 129
b. Kombinasi
Merupakan himpunan/kumpulan obyek dimana urutan tidak diperhatikan.
nCr = n!/r!(n-r)!
Contoh:
6 karyawan yang lulus uji masa percobaan, 3 diantaranya ditempatkan di
bagian pemasaran. Berapa kemungkinan susunan yang dapat terjadi?
Jawab:
nCr = 6!/3!(6-3)! = 20




Tidak ada komentar:
Posting Komentar